Beranda Minggu Puisi Rosyad Elbantani : Syair Sunyi

Puisi Rosyad Elbantani : Syair Sunyi

48

SYAIR SUNYI

Disejarak hari, matahari merangkak.
Datang dan pergi, mengiyakan titah Tuhannya.

Disimpul malam, awan berarak.
Hilir dan mudik bersama ombak, mengiyakan titah Tuhannya.

Disimpul senyum, harapanpun menggema, memantulkan rindu yang lama tertahan.
Para Sufi cinta merindu,
menggebu, akan satu dan menyatu.

Orang-orang biasapun merindu.
Tak mampu menjadikan apapun, namun tahu hatinya tertelan.
Syair-syair sunyi terus mendengung. Diucapkan apa saja, dirasakan siapa saja.

 

HUJAN RINDU DI BOJONG GEDE

Di langit Bogor, angin bersekutu dengan awan.
Menelurkan butir, lalu menderas di sepanjang senja.
Rel kereta basah oleh kerinduan,
Dan, Bojong Gede tersepuh di dalamnya.

Riuh rendah manusia membahana, mereka datang lalu pergi lagi.
Meninggalkan kepahitan hidup yang entah kapan pernah terjadi.

Aku berada bersama mereka, diantara manusia yang duduk serta bediri.
Di kepalanya ada harap yang tersembunyi.

Tidak pernah muncul dalam kata namun berderai-derai dalam doa.
Aku dan kami semua rindu. Pada apa saja yang sebut dengan cinta.

Disini, di Bojong Gede
Ratusan hurup terangkai menjadi puisi, namun ribuan lainnya berakhir sunyi.
Bukan karena tak ada yang mencipta, namun lebih karena tak terdefinisi.

CORETAN

Hujan adalah air mata malaikat.
Ia menangisi nasib anak manusia yang tak tentu arah.

Angin adalah senyuman keabadian. Kadang, dia lupa kemana harus pergi.
Awan adalah gadis disenja hari. Dicari ayahnya untuk segera pulang.

Hujan, angin dan awan kadang bersekutu. Jika berkenan. Mereka melahap kesedihan. Menanggalkan luka di setiap hati orang-orang.
Kadang, jika sedang bosan, mereka lari dan tak mau menoleh. Abai akan apa saja. Termasuk nasib kelam.

Getir anak manusia bagi mereka adalah catatan. Tergores lalu hilang kembali.
Pesan mereka akan hidup selalu sama. Jalani jangan lupakan. Alami lalu renungi.
Itu saja.

 

ANAK KANDUNGNYA

Kulihat kau berjalan beriringan.
Rapat dan tak pernah putus.
Ucapanmu tenggelam dalam riak. Lalu muncul kembali dalam hasrat untuk memulai.

Mata pencuri melirik dari jembatan.
Kaki-kakinya berjalan di atas tubuhmu.

Menebalkan rasa takut pada masa depan.
Jerit dan serak meraja.
Sungai adalah kehidupan.
Dan manusia adalah anak kandungnya.

Ia mati sebelum kematian.
Ditusuk anaknya tepat diulu hati.
Ia bisa hidup kembali dengan satu syarat: Cinta anaknya.

Parung Lawang
Februari 2026

 

HUJAN DI BULAN JUNI

Aku menyukai hujan, terlebih dibulan Juni. Sejuk serta mendamaikan.
Dan begitulah dirimu.

Bagiku, melihatmu adalah melihat kebahagiaan.
Dan bersamamu, kita ikhtiarkan tuk menemukan surga di dunia, pun akhirat.

Hawaku,
Mendampingimu setiap hari,
laksana membuka buku yang tak pernah habis kubaca,
Selalu baru dan menggembirakan.

Betapa, betapa aku bersyukur kau menerima khitbahku saat itu.
Mengikat ikrar yang diaminkan penduduk langit.

Khadijahku,
Memang, jalan ibadah tak pernah selalu mudah.
Selalu ada khilaf dan alfa disana,
Ada aral dan terjal dalam perjalanannya.
Namun, sebagai mana Ali dan Fathimah,
Kita akan terus belajar.

Aku menjadi imammu,
Dan kau menjadi ma’mumku.
Sehingga setiap “semoga” yang terucap,

Kau aminkan dalam hati,
Percis, satu shaf di belakangku.


 

rosyad_elbantani adalah nama pena dari Ahmad Rosadi. Pria kelahiran Tangerang 14 Desember 1988 ini adalah seorang guru sejarah. Selain mengajar di sekolah, ia juga aktif sebagai Sekretatis MGMP Sejarah Provinsi Banten, Sekretaris MGMP Sejarah Kabupaten Tangerang dan pengurus di Asosiasi Guru Sejarah Indonesia Banten.

Dalam kesehariannya, pria asli Tangerang ini juga menyukai hal berbau seni dan sastra. Seperti cerpen, puisi, teater, musik dan film. Untuk komunikasi bisa menghubungi beliau di IG dan Tiktok: rosyad_elbantani.

Soeh studio Jasa Pembuatan Website