Beranda Opini Jendela Redaksi: Transformasi dan Pengalaman Eksklusif di Detikcom

Jendela Redaksi: Transformasi dan Pengalaman Eksklusif di Detikcom

29

Oleh Ikhda Nisrina Nabila

Dunia komunikasi dan penyiaran adalah sebuah samudera yang luas, di mana teori di bangku perkuliahan hanyalah permukaan kecil dari realitas industri yang sesungguhnya. Sebagai mahasiswa semester 5 Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, saya selalu merasa bahwa tantangan nyata ada di luar dinding kelas. Namun, perjalanan saya menuju salah satu media online terbesar di Indonesia, Detikcom, dimulai dengan sebuah langkah yang tidak terduga sebuah kombinasi antara keberanian, rasa penasaran, dan sedikit “keisengan”.

Awalnya, saya hanya melihat sebuah tautan pendaftaran magang melalui program Prima PTKIN yang dibagikan oleh pihak jurusan. Tanpa riset mendalam mengenai apa itu Prima PTKIN, saya memutuskan untuk mencoba keberuntungan. Di sinilah saya belajar bahwa seringkali kesempatan besar datang kepada mereka yang berani mengetuk pintu, meskipun mereka belum sepenuhnya tahu apa yang ada di balik pintu tersebut. Proses pendaftaran yang cukup panjang, mulai dari pengisian data diri, penyusunan CV, hingga pembuatan portofolio, menjadi ujian kesabaran pertama bagi saya. Setiap tahap saya jalani dengan penuh ketelitian, menyadari bahwa saya sedang berkompetisi dengan mahasiswa-mahasiswa hebat lainnya dari seluruh penjuru negeri.

Perjuangan Menuju Meja Redaksi

Setelah melewati seleksi berkas, saya diperhadapkan pada pilihan instansi. Hati saya tertambat pada Transdigital Media, khususnya Detikcom. Mengapa Detikcom? Karena sebagai mahasiswa penyiaran, saya ingin berada di pusat arus informasi yang paling cepat dan akurat. Saya memilih divisi Video Editor dan Video Journalist sebagai prioritas utama.

Proses seleksi di Detikcom bukanlah perkara mudah. Saya harus melewati tahapan psikotes dan wawancara dengan pihak HRD serta user (calon mentor). Di tahap ini, saya diuji secara mental dan keterampilan teknis melalui tugas-tugas khusus yang menjadi syarat kelulusan. Ketegangan itu akhirnya berbuah manis ketika pada tanggal 26 Agustus 2025, saya dinyatakan resmi diterima sebagai mahasiswa magang di divisi Video Jurnalis. Momentum itu bukan hanya sebuah kemenangan bagi saya, tetapi juga awal dari tanggung jawab besar yang akan saya emban selama lima bulan ke depan.

Onboarding dan Adaptasi Budaya Kerja Media

Tanggal 1 September 2025 menjadi langkah pertama saya memasuki gedung Trans Digital Media di Jakarta Selatan. Pengalaman hari pertama adalah masa onboarding yang membuka mata saya tentang ekosistem kerja media online. Detikcom bukan sekadar kantor; ia adalah dapur informasi yang bekerja 24 jam tanpa henti.

Saya diperkenalkan dengan para mentor, wartawan, dan redaktur senior. Di sini, hierarki terasa sangat cair namun profesional. Saya belajar bahwa di dunia media, senioritas tidak diukur dari usia, melainkan dari pengalaman dan ketajaman insting jurnalistik. Mentor-mentor saya adalah orang-orang hebat yang memberikan bimbingan tentang bagaimana menulis naskah video jurnalistik yang ringkas, padat, namun tetap menarik. Mereka menanamkan disiplin bahwa dalam media digital, kecepatan adalah kunci, namun akurasi adalah harga mati.

Realitas Lapangan: Hak Istimewa di Balik Kamera

Bagian paling berharga dari magang ini adalah saat saya diterjunkan ke lapangan. Menjadi Video Jurnalis di Detikcom berarti saya memiliki “paspor” untuk memasuki ruang-ruang yang tertutup bagi masyarakat umum. Saya merasakan sensasi luar biasa saat diperbolehkan memasuki gedung-gedung pemerintahan yang dijaga ketat, hingga kesempatan langka untuk bertemu dan meliput langsung kegiatan tokoh-tokoh penting bangsa, termasuk Presiden Indonesia.

Di lapangan, saya menyadari kekuatan profesi jurnalis. Kita dilindungi oleh Undang-Undang dalam menjalankan tugas mencari kebenaran. Pengalaman ini memberikan saya relasi yang sangat luas, di mana saya bisa bersosialisasi dengan wartawan dari berbagai media nasional maupun internasional. Saya belajar tentang teknik pengambilan gambar di tengah kerumunan massa, bagaimana melakukan wawancara cegat (doorstop), hingga bagaimana tetap tenang di bawah tekanan deadline yang ketat.

Refleksi dan Makna Sebuah Pengalaman

Selama lima bulan, saya tidak hanya mendapatkan ilmu teknis mengenai jurnalisme. Saya mendapatkan pemahaman mendalam tentang betapa besarnya pengaruh media dalam membentuk opini publik di Indonesia. Media memiliki “rahasia” tersendiri—hal-hal di balik layar yang seringkali tidak diketahui publik namun sangat menentukan arah pemberitaan.

Menjadi bagian dari Detikcom adalah sebuah transformasi bagi diri saya. Penghargaan yang saya terima dari perusahaan ini bukan sekadar lembaran kertas, melainkan bukti nyata dari dedikasi, keringat, dan proses belajar yang luar biasa hebat. Saya belajar untuk lebih percaya diri, lebih peka terhadap isu sosial, dan lebih mahir dalam berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang.

Harapan untuk Masa Depan

Perjalanan magang selama lima bulan di Detikcom ini akhirnya sampai pada titik pungkasan, namun api semangat yang tertanam dalam diri saya baru saja menyala. Pengalaman ini telah mengubah sudut pandang saya, dari seorang mahasiswa yang hanya melihat media melalui layar ponsel, menjadi seseorang yang memahami kompleksitas di balik setiap berita yang tersaji. Saya menyadari bahwa setiap detik informasi yang sampai ke masyarakat adalah buah dari kerja keras, integritas, dan dedikasi tinggi para awak media.

Rasa terima kasih yang tak terhingga saya sampaikan kepada keluarga besar Detikcom—para mentor yang tidak pelit berbagi ilmu, rekan-rekan wartawan yang telah menjadi teman diskusi di lapangan, serta pihak universitas dan program Prima PTKIN yang telah membukakan pintu kesempatan ini. Penghargaan yang saya terima bukan sekadar simbol pencapaian, melainkan pengingat bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil. Setiap lelah saat meliput di bawah terik matahari atau tekanan deadline di kantor, kini terbayar dengan kedewasaan berpikir dan keterampilan yang lebih matang.

Saya berharap jejak langkah ini tidak hanya berhenti di sini, melainkan menjadi pijakan awal bagi karier saya di dunia komunikasi di masa depan. Semoga catatan perjalanan ini juga bisa menjadi pemantik motivasi bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten untuk jangan pernah takut mencoba hal baru dan berani keluar dari zona nyaman. Karena pada akhirnya, keberanian untuk mencoba adalah kunci utama untuk membuka pintu-pintu kesempatan yang luar biasa di masa depan. (*)

Soeh studio Jasa Pembuatan Website