Oleh Muhaimin, S.M.

Tangan mungil yang dulu dibimbing mengucap doa, kini tumbuh menjadi tangan yang lebam oleh dinginnya air sumur di waktu subuh. Bagi Zahran, rumah bukan lagi kata benda yang hangat. Sejak nisan ibu dan ayahnya mengering, rumah berubah menjadi labirin beton yang membekukan perasaan.

Ia hidup di antara bayang-bayang saudara yang jiwanya telah retak oleh pertikaian mereka sendiri. Zahran adalah “tamu tak diundang” di rumahnya sendiri. Setiap pagi, ia adalah orang pertama yang bangun dan orang terakhir yang memejamkan mata.

Ia mencuci piring dengan hati-hati agar tak berisik, menyetrika baju hingga licin sempurna, dan belajar hingga larut. Dalam benaknya, ada sebuah perhitungan yang menyayat hati:

“Jika aku menyapu lebih bersih, mungkin paman akan mengusap kepalaku.”

“Jika aku juara kelas, mungkin bibi akan bertanya apakah aku sudah makan.”

Namun, cinta ternyata bukan komoditas yang bisa dibeli dengan pengabdian. Zahran tetap transparan. Ia makan sisa makanan dingin di dapur, saat lampu ruang tengah sudah dipadamkan. Kamarnya hanyalah sudut ruang tamu, beralaskan tikar tipis yang saksi bisu betapa seringnya ia memeluk lutut, menahan isak agar tak membangunkan penghuni rumah yang membencinya.

 Pertemuan Dua Jiwa di Sudut Sunyi

Sore itu, hujan turun seolah langit ikut menangis. Zahran meringkuk di sudut perpustakaan, tempat paling aman baginya karena di sana, kesepian adalah hal yang lumrah. Saat itulah ia bertemu Zems.

Kejadiannya sederhana: sebuah buku terjatuh, dan Zahran memungutnya dengan tangan yang gemetar karena kedinginan. Zems menatap tangan itu—tangan yang kasar karena deterjen namun bergerak dengan kelembutan yang aneh.

“Tanganmu… mereka terlihat seperti tangan seorang tulus dan tenang. Itu sebuah bakat, Zahran,” bisik Zems tulus.

Zahran terpaku. Selama bertahun-tahun, tangannya hanya dianggap sebagai alat pembersih lantai dan pengangkut sampah. Baru kali ini, ada seseorang yang melihat jiwa di balik telapak tangannya, bukan sekadar kegunaannya.

Saat “Darah” Tak Lagi Bicara

Puncaknya adalah ketika tubuh kecil Zahran tumbang. Demam tinggi membuatnya menggigil di sudut ruang tamu yang gelap. Tak ada yang datang membawakan selimut. Tak ada yang bertanya mengapa ia tak bangun subuh itu.

Hingga pintu depan diketuk pelan. Zems berdiri di sana dengan wajah cemas, membawa semangkuk bubur hangat yang uapnya mengepul seperti harapan.

“Kenapa kamu melakukan ini, Zems? Aku hanya anak yatim piatu yang menumpang hidup. Aku bukan siapa-siapa,” isak Zahran, suaranya parau oleh air mata.

Zems duduk di lantai, sejajar dengan tempat tidur tipis Zahran. Ia menggenggam tangan sahabatnya itu erat-erat.

“Zahran, dengar aku. Keluarga bukan tentang siapa yang berbagi darah di nadi kita, tapi tentang siapa yang bersedia membagi napas saat kita terasa sesak. Kamu bukan orang asing. Kamu adalah saudaraku.”

Akhir dari Sebuah Pencarian

Malam itu, sesuatu dalam diri Zahran sembuh. Ia berhenti mengetuk pintu hati yang terkunci rapat. Ia berhenti mengemis kasih sayang pada mereka yang buta terhadap keberadaannya.

Allah SWT memang mengambil “rumah” betonnya, namun Allah SWT menggantinya dengan “rumah” yang jauh lebih megah: seorang sahabat.

Kini, Zahran tetap membantu di rumah saudaranya, namun hatinya tak lagi hancur saat diabaikan. Ia tahu, setiap akhir pekan, ada sebuah meja makan di mana namanya disebut, ada sebuah kamar di mana keberadaannya dirayakan, dan ada satu tangan yang akan selalu menggenggamnya saat dunia kembali terasa gelap.

Ternyata, pulang tidak selalu berarti menuju alamat yang sama dengan KTP kita. Pulang adalah menuju seseorang yang membuat kita merasa dianggap “ada”.

Kisah Zahran adalah potret tentang “rumah” yang runtuh, namun dibangun kembali melalui kepingan-kepingan ketulusan. (*)

 

*) MUHAIMIN, S.M., lahir di Serang, 10 Agustus 1994. Guru di SMP Islam Al-Tibyan. Moto hidupnya adalah Allah SWT tidak akan merubah suatu kaum, kecuali mereka merubaha diri mereka sendiri. Ia memiliki saran untuk anak didiknya: “Persiapan terbaik untuk besok adalah hari ini!”