Oleh Nurul Awaliyati Dewi, S.Pd.

Hari itu, hari Minggu yang tak seperti biasanya. Kurebahkan tubuhku ke tempat tidur setelah selesai mengerjakan tugas rumah. Aku lihat puteri kecilku masih tertidur dengan bola matanya yang imut. Kupandangi seakan ia tertidur dengan tersenyum. Aku bangunkan suamiku lebih awal dari biasanya, karena ia akan mengikuti acara gathering di kantornya. Aku ingin  ikut, namun hati belum siap karena puteriku baru berusia delapan bulan untuk aku ajak dalam perjalanan jauh, aku tidak tega membayangkannya jika harus melihatnya rewel dalam perjalanan.

“Mah, dede masih demam ngga?” tanya suamiku membuka percakapan ketika sarapan.

“Masih, tapi tadi turun sudah 37˚C demamnya.”

“Syukurlah, semoga demamnya semakin turun yah.”

“Aamin, tapi nanti Papa jangan lama-lama ya, kalau acaranya sudah selesai langsung pulang aja. Mama khawatir karna ini pertama kalinya dede sakit.”

“Iya Mah, tenang aja,” kata suamiku sambil menghabiskan sarapannya.

Setelah suamiku berangkat, aku kembali ke meja  makan membereskan makanan dan peralatan ke dapur. Lalu aku kembali ke kamar mengecek puteriku yang masih tertidur. Namun ketika aku baru saja hendak keluar, tangisannya membuatku membalikkan badan.

“Dede sudah bangun?” sapaku sambil mencium keningnya.

Namun ia tetap menangis, tidak seperti biasanya. Setelah aku cek popoknya ternyata pup, tapi kenapa warna pupnya berbeda tidak seperti kemarin? Maklum semenjak punya anak aku sering mencari informasi dan belajar tentang bayi dan anak, seperti warna dan tekstur pup pada bayi atau anak yang sehat dari internet dan buku KIA.

Aku dekap puteriku setelah aku bilas dan bersihkan. Badannya semakin panas, seketika aku langsung mengambil thermometer di laci dan menempelkan pada ketiaknya, suhu tubuhnya semakin naik di angka 38,7˚C. Aku yang saat itu berada sendiri di rumah sedikit panik, karena ini pengalaman  pertamaku menghadapi anak sakit.

Aku gendong puteriku yang sedang rewel karena demam, aku coba tenangkan dengan mendekapnya, sampai ia tertidur dalam gendongan. Dengan suhu tubuh yang semakin panas dan kondisi pencernaan yang tidak baik-baik saja, membuatku berfikir, andai semua rasa sakit puteriku dapat di-transfer aku siap menampung semua rasa sakitnya itu.

Karena tanganku sudah sedikit pegal, dan aku rasa puteriku sudah terlelap, aku baringkan ia ke tempat tidur dengan hati-hati agar tidak terbangun. Setelah itu aku menuju dapur untuk memasak makan siang.

Sekitar pukul 14.30 WIB puteriku terbangun, dan tangisnya membangunkanku yang juga sedang terlelap. Aku angkat puteriku, ternyata pup lagi, setelah aku hitung sudah 5 kali puteriku pup dengan kondisi badan panas dan pup yang cair. Seperti tubuh memberikan sinyal bahwa tubuh mungil ini sedang tidak baik- baik saja. Ternyata obat penurun panas yang sudah diberikan tidak mampu meredakan demamnya yang semakin naik.

Aku mulai takut ketika puteriku dari pukul 15.30 WIB tidak mau makan, tidak mau minum, dan bahkan tdak mau menyusu. Seketika aku teringat Ibu, lalu aku menelponnya.

“Assalamu’alaikum, Ibu di mana?”

“Wa’alaikumsalam, di rumah Din, ada apa?” tanya Ibu dengan tenang.

“Ririn demam Bu, panasnya tidak turun-turun dari kemarin. Terus diare sudah pup 5 kali sampe sore ini. Dinda harus gimana Bu? Mas Rio sedang tidak ada di rumah,” jelasku.

“Mau makan dan minum tidak Ririnnya?” tanya Ibu lagi.

“Tidak Bu, dari sore ini Ririn tidak mau makan atau minum, menyusu juga tidak mau, makannya Dinda khawatir.”

“Kamu tenangkan dirimu dan siap-siap. Ibu segera ke sana dengan Vivi, kita bawa Ririn ke IGD,” jelas Ibu.

“Baik, Bu,” sahutku sambil menutup telpon.

***

Sesampainya di rumah, Ibu langsung sigap mengambil Ririn dalam gendonganku.

“Ayo cepat kita ke rumah sakit terdekat sekarang,” kata Ibu bergegas, karena melihat kondisi Ririn yang mulai lemas, Ibu khawatir akan dehidrasi.

“Tapi bagaimana Bu kita ke IGD? Mas Rio belum pulang,” tanyaku.

“Kita naik motor saja, kasihan Ririn jika nunggu suamimu pulang,” jelas Ibu.

Sore itu langit terlihat jingga. Kami bergegas ke IGD dengan terburu-buru. Ibu menggendong Ririn dengan hati-hati bersama tukang ojek langganku, dan aku bersama Vivi dengan tas yang berisi perlengkapan Ririn.

Setelah sampai rumah sakit, Ririn semakin menangis seperti ia tahu bahwa tempat ini begitu penat untuk seusianya.

Kami diterima oleh perawat IGD yang akan berganti shift, penampilan yang rapi dan cara menangani pasien, seperti melihatkan karakter seorang yang penuh wibawa.

Tapi ada satu hal yang membuatku jengkel, perawat itu terlihat kurang kompeten atau masih belajar? Sehingga puteriku menjadi bahan ujicobanya ketika memasang jarum infusan. Seharusnya jika ia tidak bisa, dapat meminta tolong perawat lain, bukan mencoba terus, dari tangan kiri, ke tangan kanan, dari kaki kiri ke kaki kanan.

Astagfirllah itu tangan bayi, bukan tangan uji coba praktik. Kataku membatin.

Sungguh ini pengalaman pertama di IGD yang tidak seramah seperti dalam buku “Garda Detak: Antologi Gawat Darurat” cerita dokter Gia yang dapat menenangkan pasien dan membuat nyaman pasien.

Akhirnya jarum infusan berhasil terpasang di lengan Ririn, oleh perawat lain yang lebih senior dari perawat tadi. Namun tangis Ririn belum berhenti, karena ia masih merasakan sakit dan perihnya jarum suntik yang menempel pada lengannya.

Aku melihat puteriku, bukannya bisa menenangkannya malah ikut menangis karena tidak tega. Tangis Ririn sedikit reda ketika Mas Rio datang ke IGD dan menghiburnya.

Setelah mendapat kamar rawat, kami hanya diperbolehkan berdua di dalam kamar bersama Ririn. Mas Rio menyarankan aku dan Ibu saja yang di dalam, karna ia bisa gantian menunggu diluar.

Akhirnya pukul 20.00 WIB Ririn dapat terlelap dengan tenang setelah menangis sejadi-jadinya. Seperti ia juga butuh tenaga untuk kembali pulih. Ibu tidur di atas ranjang bersama Ririn, dan aku tidur di bawah ranjang dengan beralas karpet yang dibawa dari rumah. Kemudia Ibu memulai pembicaraan.

“Din, kamu tau arti dari cinta itu buta?” tanya Ibu memecah keheningan.

“Hmm… cinta itu buta seperti kita mencintai sesorang tanpa melihat fisiknya, begitu bukan Bu?” jawabku sebisanya.

“Kalau menurut Ibu, arti dari cinta itu buta, seperti kita mencintai bayi kita. Sejak di dalam perut sampai ia dewasa. Dari dalam kandungan kita belum tahu bagaimana wujud anak kita nanti, seperti siapa ia akan mirip. Tapi kita tetap mencintainya, mencurahkan segalanya untuk ia hingga lahir ke dunia,” jelas Ibu.

Kemudian air mataku menetes. “Bu, terima kasih sudah selalu ada buat Dinda,” aku bangun lalu menghampiri Ibu, kemudian aku lekas memeluk Ibu yang masih tiduran di samping Ririn.

Ternyata setelah aku menjadi seorang Ibu, aku tetap memerlukan sosok seorang Ibu. Aku masih butuh sosok Ibu untuk menguatkanku. Aku selalu butuh sosok Ibu sampai aku tua nanti. Ibu, seperti pelita dalam hidupku. Kejadian ini membuatku sadar betapa lemahnya aku jika Ibu tidak di sampingku. Begitu kacaunya aku jika Ibu tidak membantuku, dan masih banyak hal yang ingin aku pelajari dari Ibu.

Ya, akulah sosok Ibu yang masih membutuhkan Ibu, karena banyak hal yang belum aku pelajari dari Ibu. Seberat apapun ujianku, selama masih bisa melihat senyum Ibu, duniaku baik-baik saja. (*)

 

*) NURUL AWALIYATI DEWI, S.Pd., ia selalu menemukan kebahagian dalam sastra sejak masih menempuh pendidikan di SMPN 1 Tirtayasa, kala itu memanfaatkan waktu istirahat untuk membaca buku cerita ataupun puisi yang ada di perpustakaan sekolah. Membaca buku jadi favoritnya ketika penat, hingga saat inipun membaca buku masih menjadi hobbi di tengah kesibukannya menjadi seorang Ibu. Tidak banyak karya yang dicapai dalam sastra, namun semenjak di Al-Tibyan membuat karya sastra dalam bentuk buku cerpen dan puisi, ini karya keduanya. Karya pertama yang dimuat dalam buku yaitu puisi dengan judul Rindu Bunda. Ikuti dan temui di Instagram @nurulawaliyati79.