Oleh Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Dekan FKIP UNTIRTA
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Pada Selasa, 23 Juni 2026, masyarakat Banten berduka atas berpulangnya Dr. H. Syafrudin, S.Pd., M.Pd., atau yang akrab disapa Kang Syaf. Mantan Wali Kota Serang periode 2018–2023 itu meninggalkan jejak pengabdian yang mendalam bagi masyarakat.
Beliau berpulang pada usia 63 tahun, usia yang mengingatkan umat Islam pada usia wafat Rasulullah SAW. Pada usia itu, Kang Syaf telah menyelesaikan perjalanan pengabdiannya dengan meninggalkan karya, keteladanan, dan manfaat yang akan terus dikenang masyarakat.
Kang Syaf lahir di Bojonegara pada 9 Januari 1963. Ia mengawali pengabdiannya sebagai guru, lalu menapaki berbagai amanah sebagai kepala sekolah, camat, kepala dinas, hingga dipercaya memimpin Kota Serang sebagai wali kota.
Perjalanan panjang tersebut membentuk dirinya sebagai pemimpin yang memahami pendidikan, pemerintahan, dan kebutuhan masyarakat secara utuh. Ia tumbuh dari bawah dan menjalani setiap tahapan pengabdian dengan kerja keras serta ketekunan.
Salah satu teladan yang layak dikenang dari Kang Syaf adalah kecintaannya pada dunia pendidikan. Di tengah padatnya tanggung jawab sebagai Wali Kota Serang, beliau tetap tekun menuntut ilmu hingga meraih gelar doktor pada Program Doktor Pendidikan Pascasarjana UNTIRTA pada 14 Maret 2023. Beliau tercatat sebagai doktor pertama lulusan program tersebut.
Pencapaian itu menunjukkan bahwa belajar tidak mengenal batas usia maupun jabatan. Bagi Kang Syaf, pendidikan bukan sekadar program pembangunan, melainkan jalan hidup yang terus diperjuangkan hingga akhir hayat.
Selama memimpin Kota Serang, Kang Syaf dikenal sebagai sosok yang sederhana, mudah ditemui, dan dekat dengan masyarakat. Berbagai undangan warga, bahkan hingga tingkat RT dan RW, sering dihadirinya secara langsung. Baginya, kepemimpinan bukan sekadar membuat kebijakan, melainkan menghadirkan pemerintah di tengah kehidupan masyarakat. Kedekatan itulah yang membuatnya dicintai banyak warga.
Saya merasakan sendiri semangat pelayanan tersebut ketika menjabat sebagai Ketua Badan Wakaf Indonesia Kota Serang. Dalam berbagai kesempatan, saya menyaksikan bagaimana beliau berusaha hadir dan mendengarkan warga secara langsung.
Salah satu yang masih saya ingat adalah ketika beliau berdialog dengan warga Taman Widya Asri saat musibah banjir melanda kawasan tersebut. Kehadirannya memberikan ketenangan sekaligus menunjukkan bahwa pemimpin harus hadir bersama rakyat pada saat mereka menghadapi kesulitan.
Dalam masa kepemimpinannya, Kang Syaf meninggalkan lima jejak pengabdian yang patut dikenang. Pertama, penguatan kehidupan keagamaan melalui revitalisasi Masjid Agung Ats-Tsauroh. Kedua, pengembangan literasi melalui pembangunan Perpustakaan Daerah Kota Serang.
Ketiga, perluasan akses kesehatan masyarakat hingga tingkat kelurahan. Keempat, pemberdayaan UMKM dan ekonomi kreatif. Kelima, percepatan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas jalan kota sebagai penopang mobilitas serta pertumbuhan ekonomi daerah.
Di antara berbagai warisan tersebut, Masjid Agung Ats-Tsauroh memiliki makna yang istimewa. Beliau menaruh perhatian besar terhadap pengembangan masjid sebagai pusat ibadah, dakwah, pendidikan, dan peradaban masyarakat.
Karena itu, terdapat makna simbolik yang mendalam ketika pada hari wafatnya almarhum disalatkan di Masjid Agung Ats-Tsauroh Kota Serang, masjid yang begitu dekat dengan hati dan pengabdiannya. Dari rumah Allah yang pernah ia perjuangkan pembangunannya itu, masyarakat melepas kepergiannya dengan doa-doa terbaik.
Peristiwa tersebut seakan menjadi penutup yang indah bagi perjalanan seorang guru, akademisi, birokrat, dan pemimpin daerah. Dari ruang kelas, ruang pengabdian pemerintahan, ruang sidang doktoral, hingga ruang kepemimpinan sebagai Wali Kota Serang, Kang Syaf menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati dibangun oleh ilmu, kerja keras, dan keberpihakan kepada masyarakat. Jejaknya akan terus hidup dalam karya-karya yang ditinggalkannya serta dalam kenangan masyarakat yang pernah merasakan manfaat pengabdiannya.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah, pengabdian, dan kebaikan beliau sebagai amal saleh yang terus mengalir pahalanya. Semoga lima program prioritas yang telah beliau rintis menjadi amal jariyah yang memberi manfaat bagi masyarakat hingga generasi mendatang. Sebab kekuasaan yang berada di tangan orang yang tepat akan melahirkan kemaslahatan: kota yang maju, warga yang bahagia, berdaya, dan berbudaya. Selamat jalan, Kang Syaf. Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin. (*)







































