​Oleh Anas Al Lubab

​​Membuka lembar demi lembar novel “Menunggu Zakiyah” buah karya Ahmad Wayang memberikan sensasi serupa menghadapi sekotak potongan puzzle acak. Pembaca tidak sekadar membaca, melainkan ditantang untuk meraba hubungan antarperistiwa dan menyusun ulang fragmen cerita yang sengaja disebar secara acak oleh penulisnya. Meski awalnya lompatan lini masa ini terasa membingungkan, di sinilah letak keistimewaannya: Ahmad Wayang piawai merajut ketidakberaturan tersebut menjadi kesatuan cerita yang utuh dan mengasyikkan.

​Tema “kasih tak sampai” memang sudah pasaran dalam khazanah sastra kita. Namun, Ahmad Wayang berhasil meloloskan diri dari jebakan klise. Alih-alih menyajikan melodrama yang linear, ia memilih struktur narasi yang berani. Setiap bab bertindak bagai serpihan memori mandiri yang memiliki magnet tersembunyi untuk saling tarik-menarik dengan bab lainnya.

​Novel ini secara cerdas membidik dua segmen pembaca sekaligus lewat kontras dua tokoh utamanya. Melalui tokoh Zakiyah, kita disuguhkan potret realitas yang kelam mengenai kompleksitas dunia rumah tangga. Di sini, narasi tidak lagi berbicara tentang romansa manis, melainkan tentang ekspektasi yang remuk, benturan ego, dan ujian komitmen di tengah tekanan sosial. Zakiyah digambarkan sangat manusiawi—seorang wanita biasa yang berjuang menjaga kewarasannya di tengah kepungan konflik domestik. ​

Sebagai penyeimbang, figur Rosdiana Ayu hadir membawa kita bernostalgia ke masa lalu, menyelami atmosfer kisah cinta masa SMA yang penuh kepolosan dan idealisme masa muda. Kontras antara beratnya dunia dewasa Zakiyah dan warna-warni dunia remaja Rosdiana Ayu membuat ritme novel ini sangat dinamis. Pembaca seolah diajak menaiki kincir ria; sesaat dibawa melihat indahnya masa muda, lalu dihempaskan memahami pahitnya kenyataan hidup. ​

“Kehidupan tidak pernah dirancang untuk selalu selaras dengan keinginan kita. Namun, dalam setiap ketidakpastian itulah, jiwa kita dipaksa tumbuh lebih kokoh.”

​Lebih dari sekadar kisah cinta yang kandas, Menunggu Zakiyah adalah sebuah ajakan kontemplatif untuk menghikmahi setiap inci persoalan hidup. Ahmad Wayang menekankan bahwa kenyataan yang tidak sesuai harapan acap kali menjadi cara semesta untuk menempa manusia agar tumbuh lebih kuat dan bijaksana.​

Di tengah kepungan permasalahan hidup modern yang kian hari kian tidak karuan, novel ini hadir layaknya oase kecil yang menawarkan ruang jeda.

Buku ini menjadi bacaan yang sangat layak bagi siapa saja yang tetap ingin menjaga kewarasan jiwanya, sekaligus pengingat bahwa di balik setiap rasa sakit, selalu ada kebijaksanaan yang menanti untuk dipetik. (*)

*) Anas Al Lubab, penulis buku Agama Menu Resto dan Pendiri Gudang Buku Serang.