Beranda Opini Idul Adha dan Arah Pembangunan Kota Berbasis Masjid

Idul Adha dan Arah Pembangunan Kota Berbasis Masjid

3

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Ketua Bidang Imarah Masjid Agung Ats-Tsauroh Kota Serang

Rabu, 27 Mei 2026 bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 H. Momentum ini tidak cukup dimaknai sebagai perayaan ritual tahunan semata. Idul Adha adalah panggilan untuk menata kembali arah pembangunan masyarakat dan kota. Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa pengorbanan bukan hanya melahirkan kesalehan pribadi, tetapi juga melahirkan peradaban. Karena itu, pembangunan kota tidak boleh hanya berorientasi pada infrastruktur fisik dan pertumbuhan ekonomi semata. Kota membutuhkan fondasi moral, pendidikan, solidaritas sosial, dan ketahanan budaya. Di titik inilah masjid menemukan kembali relevansinya sebagai pusat pembangunan masyarakat.

Al-Qur’an dalam Surat Al-Balad membuka refleksi besar tentang arah sebuah peradaban. Allah bersumpah dengan kota Mekah, Nabi Muhammad SAW, dan Ibrahim bersama Ismail. Kota, pendidikan, dan keluarga pengorbanan menjadi tiga simbol besar peradaban Islam. Setelah itu Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan “fi kabad”, dalam perjuangan dan kerja keras. Artinya, kemajuan tidak lahir dari kenyamanan dan kemalasan. Peradaban dibangun melalui pendidikan manusia, kekuatan ekonomi, dan ketahanan sosial. Karena itu kota yang besar bukan hanya kota yang megah, tetapi kota yang berhasil membentuk manusia beradab.

Kota Serang sesungguhnya memiliki modal sejarah yang sangat kuat untuk membangun kota berbasis masjid. Dalam sejarahnya, Banten Girang berkembang sebagai kota sungai yang menopang pertanian dan perdagangan masyarakat. Sementara Surosowan di Kasemen tumbuh sebagai kota pelabuhan yang menghubungkan Banten dengan berbagai bangsa dan pusat perdagangan dunia. Identitas Banten sejak awal adalah identitas maritim, perdagangan, pendidikan, dan jaringan ulama. Peradaban tumbuh karena adanya kekuatan ekonomi rakyat yang ditopang oleh moral dan agama. Masjid menjadi pusat orientasi sosial masyarakat. Karena itu pembangunan Kota Serang seharusnya tidak tercerabut dari akar sejarah tersebut.

Hari ini Kota Serang memiliki modal sosial-keagamaan yang luar biasa besar. Terdapat sekitar 631 masjid, 220 pesantren, dan 150 madrasah diniyah yang tersebar hampir di seluruh wilayah. Selain itu terdapat 67 kelurahan dan 762 RW yang dapat menjadi basis penguatan gerakan sosial berbasis masjid. Ini bukan sekadar data statistik keagamaan. Ini adalah infrastruktur sosial yang sangat strategis untuk pembangunan kota. Sebagian besar pesantren dan madrasah diniyah tumbuh dari lingkungan masjid. Karena itu pembangunan berbasis masjid sesungguhnya memiliki fondasi sosial yang sudah hidup di tengah masyarakat.

Masjid dalam sejarah Islam tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat. Masjid adalah pusat ilmu pengetahuan, pusat musyawarah, pusat distribusi sosial, dan pusat penguatan ekonomi umat. Dari masjid lahir tradisi pendidikan, pelayanan sosial, hingga penguatan solidaritas masyarakat. Karena itu membangun kota berbasis masjid bukan gagasan romantik yang utopis. Masjid Agung Ats-Tsauroh bersama Dewan Masjid Indonesia siap bergerak menjadi pelopor gerakan ini. Gerakan yang memiliki dasar sejarah, dasar sosial, dan dasar teologis yang sangat kuat. Persoalannya bukan apakah mungkin dilakukan, tetapi apakah kita memiliki keberanian untuk menghidupkan kembali fungsi strategis masjid. Idul Adha menjadi momentum yang tepat untuk memulai arah pembangunan itu.

Pilar pertama pembangunan kota adalah pendidikan manusia. Surat Al-Balad menegaskan bahwa manusia dibentuk melalui perjuangan dan pembinaan. Karena itu pembangunan manusia harus ditempatkan di atas pembangunan fisik semata. Kota yang maju bukan hanya kota yang memiliki jalan besar dan gedung tinggi, tetapi kota yang memiliki generasi berilmu, berakhlak, dan memiliki arah hidup yang jelas. Pendidikan tidak boleh hanya dipahami sebagai urusan sekolah formal. Pendidikan adalah pembentukan akhlak, karakter, disiplin, dan tanggung jawab sosial masyarakat. Di sinilah masjid kembali menjadi pusat pembinaan manusia.

Allah kemudian mengingatkan bahwa manusia sering terjebak pada kesombongan material. Manusia merasa hebat karena harta dan kekuasaan, padahal Allah melihat seluruh perilaku dan amalnya. Karena itu pendidikan Islam bukan sekadar mencerdaskan akal, tetapi juga membersihkan jiwa dan membentuk akhlak. Nabi Ibrahim bahkan berdoa, “Rabbana wab’ats fihim rasulan minhum yatlu ‘alaihim ayatika wa yu’allimuhumul kitaba wal hikmah wa yuzakkihim”. Pendidikan dalam Islam dimulai dari membaca wahyu, mengajarkan ilmu, lalu menyucikan jiwa manusia. Karena itu gerakan Serang Mengaji harus dipandang sebagai gerakan pembangunan peradaban. Selain itu, 150 madrasah diniyah perlu dihidupkan kembali sebagai basis pendidikan dasar berbasis masjid yang memperkuat akhlak, literasi Al-Qur’an, dan karakter generasi muda Kota Serang.

Pilar kedua adalah ekonomi yang memuliakan manusia. Surat Al-Balad berbicara tentang memberi makan orang lapar dan membebaskan manusia dari keterpurukan sosial. Artinya, ekonomi dalam Islam tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi harus menghadirkan keadilan dan kesejahteraan sosial. Karena itu masjid harus kembali menjadi pusat penguatan ekonomi umat. Pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf harus diarahkan menjadi kekuatan produktif masyarakat. Ekonomi berbasis masjid harus bergerak dari konsumsi menuju produksi. Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat meminta bantuan, tetapi juga tempat membangun kemandirian umat.

Karena itu setiap kelurahan idealnya memiliki Koperasi Merah Putih berbasis Masjid Jami’. Kota Serang memiliki 67 kelurahan yang dapat menjadi pusat penguatan ekonomi umat berbasis komunitas. Wakaf tidak boleh berhenti hanya menjadi aset diam yang kurang produktif. Tanah-tanah wakaf dapat dikembangkan menjadi pusat pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha masyarakat berbasis masjid. Dari sini lahir lapangan kerja, ketahanan pangan, dan penguatan ekonomi keluarga. Masjid Jami’ tingkat kelurahan harus menjadi simpul distribusi ekonomi rakyat. Ketika ekonomi bergerak dari masjid, maka keberkahan sosial akan tumbuh dari bawah.

Di tingkat kampung dan RW, masjid juga dapat menjadi basis pelayanan sosial masyarakat. Kota Serang memiliki 762 RW yang dapat dihidupkan melalui Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) berbasis Masjid Kampung atau masjid tingkat RW. Program ini bukan sekadar urusan makanan, tetapi bagian dari penguatan solidaritas sosial masyarakat. Masjid hadir membantu anak-anak, lansia, keluarga miskin, dan masyarakat rentan di lingkungannya sendiri. Dari dapur masjid lahir semangat gotong royong dan kepedulian sosial warga. Dengan demikian, masjid kembali menjadi pusat pelayanan umat yang nyata dan dirasakan langsung masyarakat. Inilah bentuk konkret ekonomi sosial berbasis masjid yang membumi.

Gagasan ini sesungguhnya memiliki akar sejarah yang kuat di Banten. Kota sungai di Banten Girang berkembang karena adanya hubungan antara produksi pangan, perdagangan, dan kekuatan komunitas masyarakat. Sementara kota pelabuhan di Surosowan tumbuh karena keterbukaan ekonomi dan kekuatan maritim rakyatnya. Artinya, ekonomi rakyat yang berbasis komunitas bukan konsep baru dalam sejarah Banten. Pengembangan kawasan minapolitan hari ini dapat menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali kekuatan sejarah tersebut. Banten memiliki potensi besar di bidang pertanian, perikanan, dan perdagangan rakyat. Tinggal bagaimana seluruh potensi itu dihubungkan dengan kekuatan sosial masjid dan pesantren.

Pilar ketiga adalah keamanan dan ketahanan moral masyarakat. Keamanan tidak cukup dijaga melalui pendekatan administratif dan aparat formal semata. Kota membutuhkan masyarakat yang memiliki disiplin sosial, solidaritas, dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungannya. Karena itu budaya ronda dan poskamling harus kembali dihidupkan sebagai tradisi menjaga kampung dan memperkuat kebersamaan warga. Poskamling bukan sekadar tempat berjaga malam, tetapi ruang membangun solidaritas sosial masyarakat. Keamanan lahir ketika masyarakat merasa saling memiliki dan saling menjaga. Masjid dapat menjadi pusat penguatan budaya keamanan sosial tersebut.

Selain itu, tradisi perguron silat berbasis pesantren juga perlu dihidupkan kembali. Dalam sejarah Banten, silat bukan sekadar bela diri, tetapi pendidikan karakter, keberanian, disiplin, dan penghormatan kepada guru. Kota Serang memiliki sekitar 220 pesantren yang dapat menjadi basis pendidikan bela negara berbasis masyarakat dan kebudayaan lokal. Perguron silat melatih kekuatan fisik sekaligus ketahanan mental dan spiritual generasi muda. Namun tradisi ini harus tetap ditopang oleh salat, akhlak, dan silaturahmi. Jangan sampai kekuatan berubah menjadi sumber konflik sosial dan fanatisme kelompok. Ketika pesantren, masjid, dan perguron berjalan bersama, maka ketahanan moral dan keamanan sosial masyarakat akan semakin kuat.

Idul Adha mengajarkan bahwa pengorbanan harus melahirkan kemaslahatan sosial dan arah peradaban yang jelas. Nabi Ibrahim tidak hanya membangun keluarga yang taat, tetapi juga membangun fondasi kota dan peradaban. Karena itu pembangunan Kota Serang ke depan harus diarahkan menjadi kota madani berbasis masjid. Pendidikan melahirkan masyarakat cerdas dan berakhlak. Ekonomi berbasis wakaf dan masjid melahirkan kesejahteraan sosial. Keamanan berbasis persaudaraan dan budaya pesantren melahirkan ketahanan masyarakat. Ketika masjid hidup, ilmu tumbuh, ekonomi bergerak, dan solidaritas sosial menguat. Di situlah sebuah kota tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi menjadi rumah peradaban.***