Beranda Opini Membaca Hikayat Joker yang Berdakwah Lewat Mimbar FB

Membaca Hikayat Joker yang Berdakwah Lewat Mimbar FB

2

Oleh Ahmad Wayang (Penulis Novel Menunggu Zakiyah)

 Perkenalan dengan Penulis Hikayat Joker

Sebelum kita membahas tentang apa isi dari buku berjudul “Hikayat Joker” karya Anas Al Lubab ini, terlebih dahulu saya ingin bercerita tentang perjumpaan saya dengan penulis, karena dalam buku tersebut tidak terdapat keterangan biodata penulis atau profil singkat.

Saya biasa memanggilnya dengan sebutan “Bang Nas”, karena memang beliau adalah senior saya, baik di kampus IAIN SMH Banten, sekarang menjadi UIN SMH Banten, dan juga senior di Komunitas Rumah Dunia. Tapi dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya nama saja.

Saya mengenal Anas Al Lubab di Rumah Dunia (RD), saat ia menjadi relawan di sana sekitar tahun 2010-an. Seingat saya, Anas Al Lubab memang terbilang cukup singkat menjadi “kuncen” di RD, tapi meski sudah tidak tinggal di RD lagi, ia masih sering datang ke RD dan komunikasi kami masih terus terjaga.

Menurut saya Anas Al Lubab salah satu relawan yang multitalent, apa buktinya? Selain beliau mahir menulis, dia juga pandai melukis, membuat sketsa, dan diam-diam menjadi CEO Gudang Buku Serang dan CEO Pegon (Peci Goni) yang ia buat dan jahit sendiri.

Soal menulis, Anas Al Lubab yang saya tahu konsen menulis esai atau resensi buku. Jika kita melakukan pencarian di laman google dengan kata kunci “resensi buku Anas Al Lubab”, kita dengan mudah akan menemukan jejak-jejak tulisannya. Yang tersebar di berbagai media online, seperti golagongkreatif.com, kurungbuka.com, basabasi.co, biem.co dan lain-lain. Serta esai-esainya juga dimuat di kataway.co.id.

Kita juga tahu, Anas Al Lubab termasuk salah satu pengagum dan pembaca buku-buku karangan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang merupakan penulis, tokoh intelektual Muslim Indonesia sekaligus budayawan. Kita bisa melihatnya di status-status Facebooknya. Anas sering mengupload beberapa momentum saat bertemu dengan Cak Nun.

Dalam satu kesempatan saya bersama Anas pernah menemui Cak Nun di ruang rektor IAIN SMH Banten usai acara waktu itu. Kami sekalian meminta tanda-tangan Cak Nun. Dari sana saya tahu, koleksi buku Cak Nun yang dimiliki Anas Al Lubab cukup banyak, sementara saya hanya membawa 3 buku saja.

Sekarang mari kita bahas tentang isi buku Hikayat Joker (Kumpulan Hikmah) ini, yang dicetak pada Juli 2025 oleh GBS. Perlu diketahui bahwa dalam satu buku terdapat dua naskah berbeda.

Sampul pertama berjudul Hikayat Joker, sedangkan sampul kedua berjudul Agama Menu Resto (Kumpulan Esai).

Jika Hikayat Joker terdapat 110 halaman, maka buku Agama Menu Resto terdapat 305 halaman. Diantara dua buku ini terdapat pembatas kertas berwarna cokelat di tengah-tengahnya. Buku ini memiliki desain hard cover yang simpel dan cukup menarik. Saat pertamakali melihat Anas Al Lubab memposting buku barunya yang hard cover itu, saya langsung tertarik membelinya. Buku ini terkesan mewah dan berkelas. Saat saya tanya kenapa memilih hard cover? Bang Nas menjawab, ini sebagai bentuk apresiasinya terhadap sebuah karya.

Catatan Kecil Joker

Hikayat Joker, merupakan kumpulan “catatan kecil” Anas Al Lubab yang diposting di Facebook miliknya sebagai status, dengan melibatkan beberapa tokoh fiksi bernama Joker, Syeikh Iwak Endas dan Jebrodin. Anas Al Lubab selaku penulis, kadang bertanya tentang satu hal pada tokoh fiksi tersebut, atau mengomentari satu isu dan lain-lain. Kadang pertanyaan-pertanyaan itu lengkap dengan jawaban, kadang juga dibiarkan menggantung dan diserahkan kepada pembaca.

Seperti judulnya Hikayat Joker (Kumpula Hikmah), buku ini mengandung banyak hikmah. Setiap catatan kecil memiliki hikmah yang bisa dipetik bagi pembaca.

Seperti pada tulisan yang berjudul Bahagia dari Dalam (hal 37), Anas menulis begini:

“Gimana, enak tidur di gubukku, Nas?” tanya Joker sambil cengarcengir.

“Enak endasmu, pengap sumpek wakeh lamuk!” saya kesal.

“Itu karena kamu mengolah bahagia di luar dirimu, jika kau sanggup meniru pola hidup kayak aku, kau akan bahagia tanpa mesti menunggu kaya.”

“Alah bilang aja kamu ngehibur diri atas nasib kemelaratanmu.”

“Coba bandingkan hidupmu dengan orang lain yang kamu anggap kaya dan bahagia. Kamu yang hanya punya motor dan hidup ngontrak dibanding dengan yang punya banyak kendaraan dan rumah mewah. Jika kau ada masalah dengan anak dan istrimu kau akan dengan cepat mesti menyelesaikannya cari jalan damai karena tak mungkin kau tahan saling diem dalam satu ruangan sempit, dengan hanya punya motor kau selalu mesra. Jika kau kaya, istrimu ngambek akan cari kamar untuk mengurung diri membiarkanmu galau di sofa. Jika kau punya mobil, boroboro mesra, yang ada kamu lelah nyetir istri di samping sibuk main gadget atau ngorok tidur.”

“Cukup Ker, kamu nyebelin. Logikamu ngaco,” saya berlalu dengan kesal meninggalkan Joker yang tertawa terpingkal-pingkal.

Dari catatan kecil ini kita bisa memetik hikmah atau pesan yang ingin disampaikan oleh penulis lewat tokoh Joker, bahwa kebahagiaan sejatinya datang dari dalam diri, dan soal nasib hidup, apa pun kondisinya, kita mesti mensyukuri apa yang ada. Bukankah ketika kita bersyukur, Tuhan akan menambah nikmat kepada kita. Seperti pada QS. Ibrahim ayat 7. Allah SWT berjanji, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Tulisan lain berjudul Kursi Plastik (hal 10):

Saat saya tengah duduk termenung di kursi plastik, tiba-tiba Joker muncul mengagetkanku sambil memanggul setumpuk kursi plastik yang biasa di pakai hajatan yang masih ada lapisan kainnya dan berseru,

“Nas, nas, jadi orang nggak ada keinginan amat megegeg bae, kayak kite kih!” Lantas Joker melempar tumpukan kursi yang otomatis menjadi barisan rapih. Iya pun salto dari satu kursi ke kursi lain sambil nyanyi dor.. dor… Aje… Kendor, tak ada waktu santai pakai kolor…

Setelah itu ia pun meninggalkan kursi yang bergelimpangan begitu saja.

Ker, ker, apeu maksudnya embuh.

Saat kita membaca sekilas, sebagian dari kita mungkin ada yang bertanya-tanya, apa maksud dari tulisan atau status itu? Tapi barangkali ada juga yang langsung bisa mengambil hikmah dari catatan kecil ini, bahwa dalam hidup ini kita dituntut untuk punya mimpi yang tinggi, sehingga kita tidak hanya diam saja atau megegeg bae. Harus aktif dan semangat.

Tapi apa makna dari kursi plastik dan slogan “Aje… Kendor” itu? Adakah kaitannya dengan politik? Kata kursi tentu identik dengan simbol kekuasan. Atau orang-orang yang tengah berebut kursi. Tapi di tangan Joker “kursi” itu malah dimainkan dan dilempar, seakan dia tidak butuh “kursi kekuasaan”.

Bicara politik, ternyata setelah kita lacak dari titimangsanya, tulisan Kursi Plastik ini diposting Anas pada 27 Mei 2024, di mana pada momentum tahun tersebut memasuki musim politik, atau musim Pilkada Kota Serang yang dilaksanakan pada 27 November 2024. Dan slogan “Aje… Kendor” merupakan salah satu slogan yang dipakai salah satu calon.

Selain dua contoh hikmah yang saya sebutkan tadi, masih banyak hikmah-hikmah lain yang bisa pembaca dapatkan. Jika ingin memetik lebih banyak hikmah, Anda bisa mengoleksi buku ini. (*)

Soeh studio Jasa Pembuatan Website