Beranda Opini Pedagogi Bhinneka Tunggal Ika

Pedagogi Bhinneka Tunggal Ika

5

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Dekan FKIP UNTIRTA

Di tengah meningkatnya polarisasi sosial, ujaran kebencian, dan kecenderungan menguatnya sekat-sekat identitas dalam ruang digital maupun kehidupan nyata, pendidikan dituntut tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga mempersiapkan generasi yang mampu hidup bersama dalam keragaman. Tantangan tersebut mengingatkan kembali pentingnya membangun paradigma pendidikan yang menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sumber pertentangan. Kemajuan teknologi informasi telah mempercepat arus komunikasi, tetapi tidak selalu diikuti oleh kemampuan memahami perspektif yang berbeda. Akibatnya, ruang publik sering dipenuhi prasangka, stereotip, dan konflik identitas yang melemahkan kohesi sosial. Dalam situasi seperti ini, pendidikan memiliki tanggung jawab strategis untuk menumbuhkan budaya hidup bersama yang damai dan produktif.

Pedagogi Bhinneka Tunggal Ika adalah proses mengubah perbedaan yang bersifat fungsional melalui ta’aruf, tafahum, dan ta’awun menjadi persatuan kebangsaan serta kontribusi bagi perdamaian peradaban dunia. Dalam perspektif ini, perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman yang harus dihapus, melainkan potensi yang harus dipertemukan dalam kerja sama. Pendidikan karena itu tidak bertugas menyeragamkan manusia, tetapi membimbing mereka untuk saling mengenal, saling memahami, dan saling menolong dalam membangun kehidupan bersama. Dari ruang kelas, asrama, dan masyarakat, proses tersebut bertumbuh menjadi karakter kebangsaan yang mampu mengubah keragaman menjadi kekuatan. Inilah hakikat Pedagogi Bhinneka Tunggal Ika sebagai jalan pendidikan Indonesia menuju peradaban yang damai, adil, dan berkemajuan.

Perbedaan merupakan sunatullah yang melekat dalam kehidupan manusia. Tidak ada dua individu yang sepenuhnya sama, sebagaimana tidak ada dua masyarakat yang memiliki pengalaman sejarah dan budaya yang identik. Keragaman bahasa, suku, adat istiadat, dan tradisi adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Namun, perbedaan tersebut tidak diciptakan untuk saling meniadakan. Perbedaan hadir untuk menjalankan fungsi yang berbeda dalam membangun kehidupan bersama. Karena itu, perbedaan bersifat fungsional, bukan kontradiksional.

Kesadaran tentang hakikat perbedaan menjadi fondasi pendidikan lintas budaya. Belajar sesungguhnya adalah proses melintasi batas-batas pengalaman dan budaya yang membentuk cara pandang seseorang. Ketika murid memasuki lingkungan baru, mereka bertemu dengan kebiasaan, nilai, dan cara berpikir yang berbeda dari dirinya. Perjumpaan tersebut dapat melahirkan prasangka atau pembelajaran, tergantung bagaimana pendidikan mengarahkannya. Pedagogi Bhinneka Tunggal Ika memilih jalan pembelajaran dan dialog sebagai respons terhadap keragaman.

Langkah pertama dalam proses tersebut adalah ta’aruf, yaitu saling mengenal. Murid perlu diberi kesempatan untuk berjumpa dengan keragaman secara langsung melalui interaksi yang alami dan bermakna. Mereka belajar mengenal bahasa, kebiasaan, makanan, kesenian, dan tradisi yang hidup dalam masyarakat yang berbeda. Proses ini memperluas pengalaman sekaligus mengurangi rasa curiga terhadap hal-hal yang belum dikenal. Dari pengenalan yang tulus tumbuh rasa hormat terhadap sesama manusia.

Namun pengenalan saja tidak cukup. Setelah ta’aruf, pendidikan harus mengantarkan murid menuju tafahum, yaitu saling memahami. Pada tahap ini murid belajar melihat makna yang tersembunyi di balik simbol dan kebiasaan budaya. Mereka memahami bahwa cara berbicara, cara mengambil keputusan, dan cara membangun hubungan sosial sering kali dipengaruhi oleh nilai-nilai yang hidup dalam suatu masyarakat. Pemahaman seperti ini membantu murid melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Dari sinilah empati tumbuh sebagai fondasi kehidupan bersama.

Tafahum pada akhirnya melahirkan ta’awun, yaitu saling bekerja sama. Pemahaman yang baik terhadap perbedaan memungkinkan manusia membangun kolaborasi yang produktif. Setiap individu dan kelompok dapat memberikan kontribusi sesuai keunggulan yang dimilikinya. Kerja sama menjadi mungkin karena perbedaan tidak lagi dipandang sebagai hambatan. Dalam suasana ta’awun, keragaman berubah menjadi modal sosial yang memperkuat kehidupan bersama.

Salah satu ruang terbaik untuk menumbuhkan ta’aruf, tafahum, dan ta’awun adalah sistem pendidikan berasrama. Asrama mempertemukan murid dari berbagai daerah dalam kehidupan sehari-hari yang nyata. Mereka belajar hidup bersama selama dua puluh empat jam dengan latar belakang yang beragam. Pengalaman tersebut tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh pembelajaran di dalam kelas. Asrama menjadi laboratorium hidup bagi praktik Bhinneka Tunggal Ika.

Di lingkungan asrama, murid belajar bahwa identitas lokal tidak harus hilang ketika identitas kebangsaan tumbuh. Seorang murid tetap dapat menjadi Sunda, Jawa, Batak, Bugis, Minangkabau, atau Papua sambil menjadi Indonesia. Mereka menemukan bahwa keberagaman budaya bukan penghalang bagi persatuan. Justru melalui pengalaman hidup bersama, tumbuh kesadaran bahwa mereka merupakan bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia. Persatuan lahir dari penghormatan terhadap perbedaan, bukan dari penghapusan perbedaan.

Proses tersebut sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi salah satu fondasi kebangsaan Indonesia. Persatuan Indonesia dibangun di atas pengakuan terhadap keberagaman yang nyata. Dalam konteks pendidikan, semboyan ini bukan sekadar slogan, melainkan prinsip pedagogis yang harus dialami oleh murid. Kelas, sekolah, kampus, dan asrama harus menjadi ruang perjumpaan yang sehat bagi berbagai identitas budaya. Dengan demikian, pendidikan menjadi sarana pembentukan karakter kebangsaan yang inklusif.

Pedagogi Bhinneka Tunggal Ika juga menemukan titik temunya dalam nilai-nilai Pancasila. Berbagai tradisi dan kearifan lokal Nusantara memperoleh ruang untuk berkembang dalam kerangka kehidupan berbangsa yang sama. Pancasila menjadi wadah etnopedagogi Indonesia yang menyatukan keragaman budaya dalam cita-cita bersama. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial memberikan arah bagi kehidupan kolektif bangsa. Karena itu, Pedagogi Pancasila dan Pedagogi Bhinneka Tunggal Ika sesungguhnya saling melengkapi.

Jika ditinjau dari perspektif sejarah, Indonesia sendiri merupakan hasil dialog panjang berbagai peradaban dunia. Nusantara berinteraksi dengan peradaban India, Arab, Tiongkok, dan Eropa melalui perdagangan, pendidikan, agama, dan kebudayaan. Berbagai pengaruh tersebut tidak diterima secara pasif, tetapi diolah secara kreatif sesuai kebutuhan masyarakat lokal. Dari proses itulah lahir identitas Indonesia yang khas dan berkepribadian. Indonesia adalah bukti bahwa dialog peradaban dapat menghasilkan sintesis budaya yang produktif.

Keunikan Indonesia terletak pada kemampuannya mengubah keragaman menjadi identitas bersama. Bahasa Indonesia, tradisi pesantren, batik, sistem sosial, dan berbagai ekspresi budaya lainnya menunjukkan kemampuan bangsa ini menyerap sekaligus mentransformasikan pengaruh dari berbagai sumber. Indonesia bukan tiruan India, Arab, Tiongkok, ataupun Eropa. Indonesia adalah hasil kreativitas Nusantara dalam mengolah warisan dunia menjadi peradaban yang berciri Indonesia. Pengalaman sejarah ini menjadi pelajaran penting bagi pendidikan masa kini.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan tidak hanya membentuk warga negara yang baik, tetapi juga warga peradaban dunia yang mampu hidup damai dalam keragaman. Dunia yang semakin terhubung membutuhkan manusia yang mampu berdialog, bekerja sama, dan membangun kepercayaan lintas budaya. Pedagogi Bhinneka Tunggal Ika menawarkan jalan menuju tujuan tersebut melalui ta’aruf, tafahum, dan ta’awun. Dari saling mengenal lahir saling memahami, dari saling memahami lahir saling bekerja sama, dan dari saling bekerja sama lahir perdamaian. Dengan demikian, pendidikan menjadi jalan untuk mengubah keragaman menjadi persatuan, dan persatuan menjadi kontribusi nyata bagi peradaban dunia yang damai, adil, dan berkemajuan.***