Beranda Opini Duka Lara Kanjeng Nabi

Duka Lara Kanjeng Nabi

37
xr:d:DAFUXS5k1D4:558,j:3655075393760821807,t:23092804

Oleh Anas Al-Lubab

Sulit dibayangkan, seorang Nabi dan Rasul, orang nomor satu kala itu, hidup sangat sederhana. Kemudahan akses koneksi dengan Allah dan para malaikat yang selalu stand by siap melayaninya, tak membuat Kanjeng Nabi jumawa dan manja. Beliau lebih memilih menjadi abdan nabiyya (nabi yang rakyat jelata) ketimbang mulkan nabiyya (nabi yang raja).

Sungguh semakin kita berusaha merekam jejak kehidupan Kanjeng Nabi, semakin kita malu sendiri. Entah sisi kehidupan Kanjeng Nabi yang mana yang telah berhasil kita tiru-teladani. Disaat kita berlomba memiliki apartemen atau rumah mewah dengan arsitektur yang bagus dan fasilitas serba canggih sebagai suatu kebanggaan, luas bangunan rumah Kanjeng Nabi ternyata hanya seukuran 4,80 m x 4,62m.

Lantainya hanya tanah liat, sehingga jika hendak rebahan, beliau mesti menggelar pelepah kurma kering sebagai alas yang kerap membekas merah di punggungnya. Langit-langit rumahnya sangat rendah. Meski begitu, beliau tetap membuka pintu rumahnya lebar-lebar kepada siapa saja yang memerlukan uluran tangannya seakan tanpa privasi.

Di rumah itulah, beliau menjahit sendiri baju lusuhnya yang robek (konon pakaiannya hanya tiga helai; satu dipakai, satu dicuci, satu disimpan), ngesol sendiri terompahnya yang jebol, tak segan membantu istrinya memasak di dapur, menyuguhkan sendiri makanan kepada tamu yang berkunjung ke rumahnya. Annas, pembantu setianya yang bekerja bertahun-tahun bahkan mengaku tak pernah sekecap pun mendengarkan Kanjeng Nabi nyawad (mengkritik) pekerjaannya.

Saat kita berburu berbagai tempat kuliner memperturutkan selera makan (berevolusi dari; bisa makan apa nggak? makan apa? makan dimana? hingga makan siapa?). Selama hidupnya Kanjeng Nabi justru tidak pernah kenyang selama tiga hari berturut-turut, kecuali selalu ada hari-hari diliputi kelaparan. Istrinya tak pernah bisa seminggu full menyiapkan menu makan dengan sempurna, kecuali ada saat-saat panjang tak ada secuilpun hidangan tersaji di meja makan rumah tangganya.

Jika sudah begitu, Kanjeng Nabi kerap berpuasa dan memilih mengikat batu-batu kerikil di perutnya agar tidak terlalu tersiksa didera lapar sehingga saat shalat berjamaah terdengar gemerutuk oleh para sahabat saat beliau tengah rukuk atau bersujud. Bayangkan setingkat Rasul orang nomor satu setaraf presiden, beliau sampai harus menggadaikan pakaian perangnya sekadar untuk membeli tiga puluh gantang gandum dari seorang Yahudi. Bukankah itu contoh nyata bentuk puasa dari nafsu kuasa?

Saat kita mudah tersinggung dan cepat naik pitam ketika dikritik orang lain atau berselisih pendapat, Rasul dengan telaten justru menyuapi bubur gandum kepada kakek buta yang mengemis di bawah pohon yang setiap hari selalu mencaci-maki beliau. Kalau kita yang diperlakukan seperti itu, sendoknya pun mungkin sudah kita weuweulin (masukin dengan paksa) ke mulut sikakek. Tapi Kanjeng Nabi berpuasa dari melakukan hal konyol tersebut. Bahkan beliau menjadi orang pertama yang paling dulu membezoek orang yang selalu meludahinya disaat situkang meludah tersebut terbaring sakit tak ada satupun yang mempedulikan-nya.

Tatkala setiap negara melengkapi persenjataan super canggih dan mematikan yang terkadang dipakai untuk membumi-hanguskan negara lain atas nama perebutan wilayah dan kekuasaan. Kanjeng Nabi disetiap pertempuran peperangannya justru selalu berupaya meminimalisir jatuhnya korban sehingga tak pernah melebihi 500 orang. Bukankah itu pola-pola puasa, mengerem kehancuran menjaga keselamatan?

Rasul berpuasa dari gila hormat dan popularitas. Beliau melarang orang berdiri dan menundukkan kepala ber lebihan dalam menghormatinya. Ia tidak mempunyai tempat khusus dan istimewa di ruang-ruang pertemuan (di masjid atau majelis) sebagaimana da’i da’i atau pemuka agama saat ini. Saat ada tempat yang masih longgar, disitulah beliau akan menempati.

Bahkan Allah tak mengizinkannya sekadar mempunyai anak lelaki, Qosim diambil Allah saat masih kecil. Menantunya dibunuh orang. Cucu pertamanya diracun istrinya sendiri. Cucu kedua tak hanya dibunuh bahkan dimutilasi, kepalanya dipenggal lalu diseret pasukan berkuda sejauh ratusan kilo meter sehingga kuburan nya ada di dua tempat. Tak mungkin manusia bisa kuat menerima kenyataan pedih memilukan seperti itu tanpa lelaku puasa.

Saat diracun Zaenab, beliau memilih dirawat di rumah Aisyah ketimbang di kediaman Maimunah. Beliau ingin semua orang bebas membezoeknya. Karena jika dirawat di rumah Maimunah yang masih keluarga dekatnya, khawatir orang lain yang hendak menjenguknya tidak leluasa. Beliau, Kanjeng Nabi bahkan berpuasa dari kepentingan pribadinya. Seluruh hidupnya ia wakafkan untuk melayani kepentingan orang banyak.

Jika pulang terlalu larut malam setelah khusyuk tahajud di masjid, beliau tak tega sekadar membangunkan istrinya dan memilih meringkuk tidur beralaskan kayu di luar rumahnya. Kalau kita, mungkin akan gedor-gedor pintu tanpa peduli bagaimana lelah dan jenuhnya sang istri mengurusi dan membereskan keadaan rumah setiap hari.

Saat Pamannya Hamzah dadanya robek jantungnya jebol dikunyah-kunyah Hindun dengan keji, Kanjeng Nabi berpuasa dari melakukan pembalasan yang dengan mudah bisa beliau lakukan. Beliau lebih memilih kemuliaan dengan cara memaafkan. Sungguh tak terhitung nilai-nilai puasa yang dilakukan Kanjeng Nabi, baik yang terrekam catatan sejarah maupun yang tak sempat kita ketahui.

Diusir dari Mekah, dilempari dengan kotoran unta, diludahi, tak membuatnya membalas dengan perkataan atau keluhan sedikit pun. Saat mencari suaka di negeri Thaif beliau justru dihujani hujatan serta lemparan batu. Beliau sama sekali tak marah, bahkan beliau menolak tawaran malaikat dan gunung yang bersedia meluluhlantakkan orang-orang yang menganiayanya, beliau lebih memilih menengadahkan tangan untuk mendoakan agar mereka mendapat cahaya hidayah Allah.

Adakah yang sudah kita teladani dari beberapa cuplikan prikehidupan Kanjeng Nabi di atas? Wallahu a’lam. (*)

Soeh studio Jasa Pembuatan Website