Oleh Anas Al Lubab
Kasus demi kasus yang timbul tenggelam ke permukaan menjadi viral pemberitaan sebagaimana yang diwartakan televisi dan surat kabar, ditenggarai disebabkan oleh kekeliruan kita dalam mendefinisikan atau menentukan makna kebahagiaan. Selama ini kita kadung percaya kepada doktrin kapitalisme global yang senantiasa melakukan propaganda lewat iklan-iklan di televisi, bahwa satu-satunya kunci pembuka pintu gerbang kebahagiaan hanyalah uang atau kepemilikan harta kekayaan, sehingga orang rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya, meminjam syair lagu Rhoma Irama, dari jualan koran hingga menjual kehormatan.
Saya ingin mengajak pembaca menekuri pandangan Leo Tolstoy tentang kebahagiaan melalui cerita pendeknya yang berjudul sama (Kebahagiaan), yang tergabung dalam antologi cerpen dunia Cinta Tak Pernah Mati, yang diterbitkan Serambi, tahun 2011. Yang memuat 17 karya cerpenis dunia lainnya yang diterjemahkan dengan jernih oleh Atta Verin dan Anton Kurnia.
Beginilah kurang lebih ikhtisar ceritanya.
Tersebutkah tokoh Ilyas, ayahnya meninggal saat Ilyas baru setahun menikah. Ilyas mendapat warisan; 7 ekor kuda betina, 2 ekor sapi, 20 ekor kambing. Berkat ketekunan dan keuletannya bekerja bersama istrinya; bangun lebih awal, selesai kerja menjelang petang, setelah 35 tahun, keduanya bergelimang keberuntungan; hidupnya kian makmur. Mereka telah memiliki 200 ekor kuda, 150 ekor sapi, 1000 ekor kambing, dengan banyak buruh atau pembantu yang bekerja untuk mereka; buruh laki-laki bertugas menggembalakan ternak, buruh perempuan memerah susu kuda dan sapi, untuk diolah menjadi mentega dan susu.
Kehidupan dan kesuksean Ilyas dan istrinya yang bergelimang kekayaan menjadi buah bibir masyarakat. Setiap harinya, selalu saja ada tamu yang datang berkunjung ke rumah mereka, berapapun jumlah tamu yang datang, Ilyas selalu memberikan jamuan maksimal, Ilyas selalu menyembelih satu atau dua ekor kambing untuk menjamu para tamunya sebaik mungkin.
Ilyas dan istrinya dianugerahi dua orang anak laki-laki dan satu anak perempuan. Ketika ia dan istrinya masih miskin, anak-anaknya dengan suka rela dan tekun membantu mereka bekerja mengawasi ternak. Saat sudah kaya, anak-anaknya mulai berbuat semaunya. Salahsatu anaknya doyan mencekik leher botol bermabuk-mabukan, yang sulung tewas akibat insiden perkelahian, anaknya yang lain menikahi perempuan sombong dan membangkang kepada orangtuanya, hingga diusir dari rumah keluarganya. Ilyas yang iba pada anak serta menantunya memberikan rumah dan sebagian ternaknya. Kesehatan Ilyas pun mulai memburuk. Hewan ternak yang dimilikinya banyak yang mati mendadak diserang penyakit. Paceklik membuat keadaan kian runyam.
Menjelang usia 70 tahun, Ilyas terpaksa menjual semua aset hartanya yang tersisa, dan menumpang bekerja untuk oranglain. Mantel tebal, topi kulit, sepatu bot yang ia banggakan saat kaya, kini tinggal kenangan. istrinya pun, yang tadinya cantik telah keriput menjadi nenek-nenek. Anak lelakinya telah pergi jauh ke kota lain, sementara anak perempuannya meninggal.
Beruntung ada seorang saudagar yang merasa iba kepada Ilyas dan istrinya, sehingga menampung dan menolong mereka agar bekerja di kebun melon miliknya. Ternyata tak sedikit teman majikan yang telah berbaik hati menampungnya mengenali Ilyas dan istrinya yang dahulunya memang terkenal sangat kaya raya.
Suatu waktu, ada seorang teman majikannya yang mengenal Ilyas semenjak masih bergelimang harta yang iseng bertanya kepada Ilyas bagaimana rasanya hidup melarat setelah bergelimang harta. Ilyas yang ditanya justru menyuruh sipenanya agar meminta pendapat istrinya.
Istri Ilyas pun menjawab, “Selama hampir lima puluh tahun kami mencari kebahagiaan dan gagal menemukannya. Kini pada tahun kedua kami bekerja di sini, saat kami tak punya apa-apa lagi dan hidup sebagai orang upahan, kami justru menemukan kebahagiaan sejati dan tak memerlukan apa pun lagi.” “Lantas, apa yang sesungguhnya membuatmu bahagia sekarang?” ujar sipenanya penasaran. “Saat kami kaya, kami tak pernah merasakan kedamaian, tak ada waktu untuk bercakap-cakap, merenung tentang jiwa kami, atau berdoa kepada Tuhan, kami dihantui banyak ke- cemasan. Ketika banyak tamu, kami cemas khawatir tak bisa menjamu dengan baik. Cemas khawatir tak bisa memperlakukan pekerja kami dengan benar, kami takut berdosa. Saat hendak tidur, khawatir jangan-jangan ternak kami dimakan binatang buas. Kami pun menjadi sering ribut lantaran berselisih paham…”
“Lalu, sekarang?” ujar sipenanya kian penasaran. “Kini, kami bisa bangun pagi bersama. Bicara dari hati ke hati dengan penuh cinta dan kedamaian, tak pernah lagi bertengkar, tak ada lagi yang perlu kami cemaskan. Kami hanya perlu melayani majikan kami sebaik mungkin. Seusai bekerja, tersedia makanan dan minuman. Jika kedinginan ada selimut dan pendiangan yang menghangatkan tubuh kami. Ada banyak waktu untuk bercakap-cakap… kami akhirnya menemukan kebahagiaan setelah lima puluh tahun mencarinya” ujar istrinya Ilyas mantap.
Sepenggal cerita yang saya sarikan dari cerpen Tolstoy di atas, begitu menohok kesadran atas kekeliruan kita selama ini dalam menentukan ukuran kebahagiaan, yang melulu mengandalkan kepemilikan harta kekayaan. Kebahagiaan menurut Tolstoy ternyata sangat sederhana yakni terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yakni sandang papan dan pangan, bukan melulu hak kepemilikan. Betapa banyak Ilyas-Ilyas hari ini yang mengalami kehancuran hidup hanya karena terlalu sibuk mengurusi dunia dan menyembelih nilai-nilai kemanusiaannya sendiri. Masih beruntung jika mampu menemui titik balik pencerahan hidup sebagaimana tokoh Ilyas yang dikarang Tolstoy, jika tidak sungguh celaka.
Untuk memungkasi esai sederhana ini saya ingin mengutip pernyataan Bertrand Russel yang menyatakan bahwa yang paling berharga dalam hidup (untuk kebahagiaan) tidak diukur oleh pertimbangan keuangan. “…Hal-hal yang sebetulnya penting bukan perumahan, tanah, mobil, real estate, tapi persahabatan, kepercayaan, keyakinan, empati, cinta, kasih, dan iman”. Wallahu a’lam (*)





































